#1 Mading Edukasi – Devi Asriantika

Menjadi ibu adalah hal yang saya sadari dari dulu akan terjadi, InshaAlloh, pada diri saya karena saya adalah seorang wanita. Sayangnya kesadaran tersebut tidak diimbangi dengan upaya memantaskan diri menjadi seorang ibu. Alhasil saya kelimpungan di detik-detik menuju menjadi seorang ibu.
Hari ini saya memang belum menjadi seorang ibu. Saya masih menjadi seorang calon ibu karena saya masih dalam status hamil tua calon anak saya. InshaAlloh sebulan lagi saya baru resmi menjadi ibu.

Kehamilan yang relatif cepat, sekitar tiga bulan setelah pernikahan, membuat hidup saya harus berputar 180°. Karena saya baru menyadari bahwa ilmu tentang hamil, melahirkan, dan mendidik anak masih nol besar. Saat masih gadis saya hanya fokus pada ilmu soal pernikahan dan membina rumah tangga secara umum. Untuk soal menjadi ibu, saya masih jauh dari paham. Maka di usia kehamilan saya sekitar empat bulan saya mulai mencari info apasaja tentang hamil, melahirkan, dan membesarkan anak.

Saya sempat depresi karena ternyata banyak sekali yang tidak saya pahami, dari fakta dan mitos seputar kehamilan dan lahiran, pemberian ASI, cara-cara merawat bayi, yang harus dilakukan saat proses melahirkan dan banyak lagi. Apalagi banyak hal yang sudah dilakukan turun temurun orang tua kita dan orang sekitar kita ternyata beberapa adalah hal yang salah. Lebih lanjut nanti akan saya jelaskan.

Maka saya berusaha mencari info apapun yang bisa membuat saya bisa paham lebih.

Pada saat usia kehamilan saya menginjak bulan ke enam, saya mengikuti kelas edukASI yang diadakan oleh AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Yogyakarta, yang mengupas tuntas tentang pemberian ASI dan seluk beluknya. Seperti yang diawal saya katakan, bahwa banyak hal yang baru saya ketahui dan ternyata bertentangan dengan apa yang orang tua kita lakukan pada kita dan orang-orang kebanyakan di sekitar kita.

Ya, saya baru tahu jika dot tidak boleh diberikan pada bayi, susu formula berbahaya untuk bayi, MPASI dini berbahaya untuk bayi dan sebagainya.

Saya baru paham juga manajemen ASI, pentingnya harus terus mengeluarkan ASI secara rutin setiap 2 jam sekali, dan sebagainya.

Saya baru tahu juga tentang IMD atau Inisiasi Menyusu Dini, tentang pentingnya peran suami saat hamil dan proses melahirkan, dan banyak hal lain.

Saya baru tahu, benar-benar baru tahu.

Wah, saya semakin menyesal kenapa dulu saat lajang tidak memanfaatkan waktu untuk belajar hal-hal semacam itu.
Maka sejak itu saya semakin tekun untuk belajar. Sering membaca soal hamil-melahirkan dan mengikuti grup-grup diskusi mengenai ASI, kelahiran normal dan sejenianya. Mulai cerewet bertanya pada teman-teman yang sudah menjadi ibu dan pada dokter saat jadwal rutin kunjungan ke dokter.

Dari banyaknya hal yang belum saya ketahui tersebut hingga akhirnya saya ‘pontang-panting’ mengejar pemahaman, saya mulai khawatir. Ya, sekarang saya memang tinggal bersama suami saja, mudah untuk memberi pemahaman pada suami saya tentang hal apa saja yang perlu diperhatikan mengenai anak kami. Tapi diawal kelahiran, secara otomatis orang tua saya dan mertua saya pasti datang. Bagaimana jika mereka tidak bisa menerima cara saya merawat anak saya? Bagi mereka pasti terlihat aneh jika saya tidak memakai dot atau tidak memberi selain asi sampai usia anak saya 6 bulan, misalnya. Di grup-grup diskusi tentang ASI banyak saya baca kasus tentang bayi yang diam-diam diberi MPASI dini oleh nenek atau kakeknya, sedangkan untuk menjelaskan secara langsung jujur saja saya tidak terlalu nyaman.

Maka saya putar otak mencari solusi. Akhirnya saya menemukan sebuah solusi, yaitu dengan mencoba membuat mading edukASI. Apa itu?
Mading edukASI adalah mading yang berisi beberapa tulisan mengenai hal-hal baru tersebut beserta penjelasan masuk akalnya, terutama yang bertentangan dengan pemahaman orang tua kita selama ini.

Memang belum ada hasilnya bagaimana reaksi orang tua saya saat membacanya, karena saya baru akan melahirkan InshaAlloh sebulan lagi. Tapi saya berharap dan optimis ini adalah salah satu usaha saya yang paling memungkinkan untuk mengedukASI orang tua dan mertua saya dengan cara yang halus dan mudah diterima.

Sayapun semakin sadar bahwa menjadi ibu tidak cukup dengan paham ilmunya saja, tetapi juga perlu kreatif dan cerdas dalam memecahkan masalah yang mungkin timbul.

Salam Nenen! 🙂
Devi Asri Antika