#2 Menyusui: Pengalaman Spiritual – Nur Purnamawati

Bagi saya menyusui adalah sebuah perjalanan spiritual; wujud penghambaan menunaikan amanah dan memberikan hak asasi dengan segala daya upaya dan perencanaan yang matang. Bagi saya ASI bukan sekedar air susu melainkan Air Surga Ibu. Sebab, pada saat saya mengandung, saya merasa Tuhan selalu berkata: Aku titipkan seorang calon manusia di rahimmu, dia hidup dari apa yang kau makan. Kelak dia lahir, aku titipkan makanan dari payudaramu untuk dia hidup menjadi manusia paripurna.

Dimulai dari mind-set saya dan suami, kami mengikuti kelas prenatal dan membaca segala literature terkait ASI. Kemudian kami berburu rumah sakit sayang ibu-bayi dan DSOG pro ASI serta memastikan bahwa IMD dan rooming-in bisa dilaksanakan dengan optimal. Tentu saja tak lupa, klinik laktasi dan konselor ASI siaga di RS tersebut. Beruntung, saya mengikuti kelas hypnobirthing di mana saya bisa mendapatkan bidan pendamping persalinan (doula) yang membimbing saya tidak hanya hypnobirthing namun juga hypnobreastfeeding. Saya yakin bahwa pemrograman otak dengan sugesti/afirmasi positif bahwa saya pasti bisa menyusui merupakan kunci keberhasilan laktasi.

Dan begitulah. Tantangan demi tantangan dapat terlewati dengan ketenangan. IMD berjalan dengan sempurna selama sekitar 45 menit hingga baby Azfar berhasil menemukan puting ibunya dan dengan luar biasa langsung menemukan perlekatan yang sempurna. Walhasil, begitu Azfar diantarkan ke kamar di mana kami rawat gabung, Azfar langsung menyusu dengan tenang sepanjang dia mau. Saya tidak merisaukan apakah saat kami rawat gabung hingga 3 hari itu ASI sudah keluar seberapa banyak. Saya hanya yakin bahwa kolostrum sudah cukup baginya, toh yang kami butuhkan di 3 hari pertama itu adalah saling belajar menyusu-menyusui, saling memahami bahasa tubuh, saling bertukar kehangatan dan rasa aman.

Seperti halnya ibu baru melahirkan lainnya, puting lecet, payudara bengkak dan stress karena kurang tidur pun saya alami. Namun dukungan keluarga, kunjungan doula ke rumah dan bantuan konselor di klinik laktasi sangat membantu saya melalui tantangan di 2 bulan pertama pasca melahirkan. Dalam 2 bulan tersebut saya hanya sibuk berkutat dengan bayi dan payudara saja, sehingga saya sudah bisa mengumpulkan sekitar 150 botol ASIP.

Orang selalu bertanya, badanmu kan kecil kok bisa menghasilkan ASI banyak sekali. Saya rasa kuncinya di kepercayaan pada tubuh sendiri, manajemen stress dan ketaatan pada jadwal memerah ASI. Saya rutin memerah setiap habis menyusui dan setiap 2 jam sekali jika Azfar tidak ingin menyusu. Saya juga rutin mengkonsumsi laktagog seperti katuk, papaya, kedelai dsb. Menjelang kembali bekerja, stok ASIP sudah sangat mencukupi – sekitar 350 botol kaca 100 mL.

Tantangan terbesar saya adalah manajemen laktasi selama bekerja. Jenis pekerjaan lapangan memungkinkan saya fleksibel mengatur sendiri waktu perah. Namun kondisi di lapangan tidak selalu bersahabat, tidak selalu tersedia ruangan yang cukup layak untuk saya memerah ASI. Andalan saya adalah mobil kantor. Untuk tugas luar kota yang tidak memungkinkan menggunakan mobil kantor, saya memilih kereta ketimbang mobil travel. Dengan kereta saya bisa memilih kursi sendirian di paling depan sehingga saya leluasa memerah di balik apron J.

Impian saya ke depan, saya ingin belajar laktasi lebih mendalam hingga memungkinkan saya menjadi motivator, syukur-syukur konselor laktasi agar semakin banyak ASI dan bayi yang terselamatkan.

Nur Purnamawati