Breastfeeding Cost

Pernahkah Bunda membayangkan atau menghitung seberapa besar pengeluaran yang harus dibayar apabila Bunda tidak menyusui?

Sekian ratus ribu, sekian juta? Hmmm….

Ada yang sudah pernah membaca tentang artikel Mommiesdaily tentang perhitungan belanja susu formula selama 6 bulan, 1 tahun, bahkan selama 2 tahun?

Sari Kaylaku, konselor laktasi dan Kepala Divisi Riset AIMI, pernah melakukan riset mengenai perhitungan biaya untuk susu. Riset ini dilakukan pada tahun 2010 dan data tersebut disimulasi berdasarkan hasil survey pola konsumsi susu formula. Maksud dan tujuan riset ini adalah mengkaji sejauh mana manfaat dari ASI dipandang dari segi ekonomi yang berdampak pada masyarakat. Dengan memperhatikan faktor inflasi, mimin Sakina mencoba melakukan perhitungan ulang dengan menggunakan harga pasaran susu formula terkini sesuai dengan kelasnya. Dari yang harganya mahal banget, medio, dan termurah.

Berikut grafik perhitungannya.Cost

Dari grafik di atas, estimasi biaya yang dihabiskan untuk membeli susu formula sampai anak usia 2 tahun adalah sebagai berikut.

  • Segmen menengah ke atas dengan susu per kaleng seharga 130.000 rupiah, menghabiskan biaya 32 juta rupiah;
  • Segmen menengah ada di angka 23 juta rupiah
  • Segmen menengah ke bawah sekitar 10 juta rupiah. Harga susu per kaleng untuk segmen ini adalah 32.500 rupiah.

Tabel simulasi tersebut belum termasuk biaya tak langsung lainnya seperti biaya penyajian susu formula (memasak air hingga matang; membeli, mencuci, dan mensterilkan botol maupun dot, serta biaya pengobatan).

Biaya pengobatan? Maksudnya? Ternyata Bunda, ada domino effect atas konsumsi susu formula terkait ketahanan tubuh anak di kemudian hari. Dampak tersebut misalnya adalah waktu dan penghasilan yang tidak didapat orangtua (khususnya ibu) akibat merawat bayi/anak yang sakit (Weimer, 2001). Secara ideal, biaya, waktu dan penghasilan yang hilang karena orangtua merawat anak yang sakit harus dianggap sebagai salah satu kerugian dari tidak menyusui. Kenapa? Karena penyebab paling umum seorang wanita tidak masuk kerja adalah karena anaknya sakit (Weimer, 2001). Dan riset menunjukkan bahwa bayi yang diberi susu formula lebih rentan terhadap penyakit dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (WHO, 2010).

Mahal Bun? Iya. T_T

Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI ditambah lagi dengan propaganda susu formula di media, menjadikan prosentase Ibu Menyusui di Indonesia masih rendah. Padahal kita tahu bahwa ASI is the best source for baby. ASI dapat memenuhi 100% kebutuhan nutrisi bayi usia 0-6 bulan, 70% pada usia 6-12 bulan dan 30% pada usia 1-2 tahun (WHO, 2010)

Alangkah bijaknya apabila alokasi belanja susu formula tersebut dipindahkan ke alokasi investasi atau untuk pendidikan anak kedepan.
Setuju?
Keep Breastfeeding and Latch on.

Salam Nenen,
SAKINA.

Sumber