MPASI : Metode BLW Atau Metode Konvensional??

“Wah… lagi ngetrend nih di luar negeri, video bayi makan sendiri alias BLW-an, belepotan cemong-cemong :-D”

Nah… baru beberapa lalu kita sudah membahas mengenai keunggulan pengenalan MPASI sesuai rekomendasi  AIMI dan WHO dengan pengenalan nutrisi lengkap segera setelah masa pengenalan 2 minggu untuk mengejar pemenuhan kebutuhan gizi anak untuk  mendukung pertumbuhandan perkembangan si Kecil. Lalu, apalagi ini BLW? 😀

Dalam tulisan ini,  Mimin Sakina membicarakan  metode pemberian makan kepada anak, yaitu :

  1. Metode Baby Led Weaning

BLW adalah metode pemberian makan yang dicetuskan oleh Gill Rapley dan Tracey Murkett. Intinya BLW membebaskan anak untuk makan sendiri dari awal proses secara mandiri. Mimin sudah baca bukunya lho 😀 best seller book tahun 2013 duluuuu.

  1. Metode Konvensional Aktif Responsif

Ibu menyuapi anak dengan tetap melibatkan anak secara aktif untuk makan.

 

Kembali  concern mengenai BLW.

Metode BLW sendiri banyak mengundang pro dan kontra. Mengapa? Karena metode BLW kurang cocok untuk diterapkan di Indonesia. Berikut Mimin rangkum beberapa pendapat dokter dan pakar mengenai metode BLW. Yuk disimak perlahan.. Beberapa dikutip sesuai kebutuhan tanpa mengubah maksud dan pernyataan narasumber 😉

 

 

  1. dr. Annisa Karnadi dan dr. Briliana Nur Rohima

“Jika bayi dipaksa makan makanan padat dini-sendiri contohnya seperti dalam baby led weaning harus diperhatikan juga risiko tersedak yang masih sangat besar. Selain itu bayi membutuhkan lebih banyak waktu untuk memanipulasi makanan tekstur padat untuk bisa mengunyahnya hingga menjadi partikel yang lebih kecil untuk ditelan. Akibatnya bayi akan memakan jumlah makanan yang lebih sedikit (karena capek dan bosan -dipaksa- mengunyah) sehingga asupan makanannya kurang dan kekosongan kebutuhan tubuhnya akan tetap kosong.

Jika ibu ingin bayi mendapatkan manfaat zat gizi secara optimal dari makanan yang dia makan maka sebaiknya ibu pilih menu dengan tekstur makanan MPASI sesuai tahap perkembangan bayi ya.”

 

  1. Sekretaris Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Sri Sudaryati Nasar, SpA (K)

“Tidak cocok dilakukan pada bayi usia enam bulan apalagi di Indonesia. Tidak ada asupan zat besi atau nutrien dan mikronutriennya tidak tercukupi kalau anak makan sendiri.

 

  1. dr. Ayu Pratiwi, Spesialis Anak.

“Metode BLW ini pada tahap awal sebaiknya dikombinasi dengan metode konvensional yang telah dikenal dengan pertimbangan beberapa hal :
1.  Kebutuhan bayi masih cukup tinggi pada berbagai macam makanan sehingga kalau memakai cara BLW tidak tercukupi dengan baik
2. Saat usia bayi 8 bulan memang sebaiknya memberi kesempatan bayi lebih banyak untuk mulai belajar mengunyah, sehingga memberi mereka fingerfood tentu akan membuat mereka banyak berlatih
3. Segala metode yang ada sebetulnya menurut saya mesti tetap dilihat pada bayinya masing masing. Memang ada bayi yang mempunyai kecendrungan mengunyah sejak awal, dan ini baik untuk nya.
4.  Saya pribadi belum pernah menemukan kasus invaginasi karena makanan yang tidak dikunyah dengan baik.”

 

  1. Fatimah Berliana, Konselor Laktasi.

“Rekomendasi WHO dan UNICEF itu bukan BLW tapi Responsive Feeding.

Silahkan baca referensi di bawah ini yg mewakili kenapa BLW tidak atau sampai saat ini belum ada Evidence kuat untuk dijadikan rekomendasi saat pemberian-pengenalan MPASI”

Currently, the Ministry of Health does not recommend baby-led weaning for New Zealand babies.

There is little research on baby-led weaning. The Ministry of Health requires evidence that this is a safe practice before recommending it for New Zealand babies as an alternative to current weaning advice. Further work is underway in this area.

Baby-led weaning – what is it?

The baby-led weaning approach to introducing solids to babies has three main features.

Baby foods, including first foods, are provided in a whole food form as finger food rather than the more traditional purée.
The baby feeds themself by selecting and picking up their food of choice from what is on offer, instead of being fed by someone else.
As with the currently recommended approach, baby-led weaning starts when the baby is ready for solid food, which is usually around six months of age. When ready for solids, baby:
– can sit up with less help
– can pick up foods and bring them to their mouth
– is showing signs of being interested in foods.
More parents and caregivers seem to be talking about baby-led weaning as an alternative to starting with puréed foods using a spoon.

Current advice on weaning

The Ministry’s current advice involves starting with spoon-fed puréed foods when baby is ready (around six months), then moving onto mashed and chopped foods over the next few months. Finger foods are offered from 7–8 months when baby is able to pick them up, bring them to their mouth and chew them.

Possible benefits and risks

Supporters claim baby-led weaning has a number of benefits over the current advice. For example, some consider baby-led weaning may help prevent obesity, because it lets babies choose how much they eat (like they do when they’re being breastfed). This may encourage them to be more aware of how hungry or full they are. Ultimately, this could lead to better eating habits.

If so, this may help address the growing obesity problem being faced in New Zealand and elsewhere. However, there are concerns baby-led weaning could mean that babies:

– don’t get enough iron
– are more likely to choke on food
– may not get enough food to grow well.
The Ministry does not recommend baby-led weaning

Currently, very little research has been done on baby-led weaning. Before the Ministry of Health could recommend baby-led weaning to the public as a safe alternative to current advice, it would need evidence that baby-led weaning doesn’t lead to babies being iron-deficient, not growing well, or having an increased chance of choking.

The Ministry would need evidence of the benefits (eg, preventing obesity) before it could recommend baby-led weaning as the best weaning practice for babies.

More research is currently being done on baby-led weaning and the Ministry will review new evidence as it becomes available. (http://bit.ly/1Mtyio4)

 

 

  1. Lianita Prawindarti MinLi, konselor AIMI.

“BLW sebagai sebuah alternatif metode pemberian makanan pada bayi awalnya dikenalkan di negara maju seperti Selandia Baru, AS, Australia dan UK, dengan beberapa alasan :

Pertama, adanya kenaikan trend pemberian makanan padat di bawah usia 6 bulan. Metode ini diharapkan orang tua akan menunda pemberian makanan padat hingga usia 6 bulan agar bisa memenuhi syarat pelaksanaan BLW.

Kedua, karena tren pemberian makanan instant makin tinggi. BLW dianggap dapat mengintegrasikan bayi kembali ke meja makan makan bersama dengan orang tuanya dengan menu keluarga dan bukan makanan instant.

Ketiga, karena tren statistik angka obesitas meningkat. BLW diharapkan menjadi self-control agar anak yang menentukan jumlah yang dibutuhkan.

Di beberapa jurnal ilmiah yang saya baca, studi BLW memang berindikasi positif jika dilakukan di negara maju yang tingkat angka kematian bayi dan balita rendah, angka kesehatan ibu hamil sudah sangat baik, dan angka ADB juga tergolong rendah.

Sementara, Indonesia masih memiliki statistik kesehatan yang berkebalikan dengan statistik kesehatan di negara maju. Potensi kematian bayi dan balita akibat malnutrisi masih tinggi dan angka ADB pada bayi di bawah 1 tahun masih 40% (Indonesia bahkan mendapat catatan khusus dari WHO harus ada program nasional pemberian suplemen zat besi bagi bayi dan ibu hamil). Oleh karena itu, Pemerintah menganjurkan mengikuti panduan WHO yg mengatur konsistensi/tekstur makanan, variety, porsi dan pola responsive feeding.”


 

Huh… hah. Panjang bener 😀

Tapi semua menjadi jelas ya.

Pemberian nutrisi anak akan lebih OPTIMAL dengan berpegang kepada Panduan MPASI oleh WHO dengan metode pemberian makan  Konvensional Aktif Responsif.

Jangan sia-siakan Golden Age anak demi pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. 🙂

 

Salam Nenen,

Sakina.

Sumber:

http://bit.ly/1SeYNT2

http://bit.ly/1cyGYaQ

http://bit.ly/1SeZifT

http://bit.ly/1KyjGSj

Facebook AIMI

 

1 comment for “MPASI : Metode BLW Atau Metode Konvensional??

Comments are closed.