MPASI : Ribet Deh !

MPASI
 
“Persiapan pengenalan MPASI ke anak, pada pakai zuchini gak? “

“Bedanya Kabocha dengan labu biasa apa?”

“Wah.. daging ikan salmon mahal ya bok…..”

Hihihi, siapa yang begini? 😀
Wajar ya, setiap Bunda pasti ingin memberikan yang terbaik kepada putra putrinya. Beredarnya beragam “Daftar Menu MPASI” sering membuat Bunda bingung dengan adanya beberapa bahan yang sulit didapatkan. Sebelum kita mencontek daftar menu yang ada, baiknya kita kembali pahami prinsip MPASI menurut WHO.

Sesuai prinsip MPASI WHO, maka MPASI bayi karakternya adalah:

PERTAMA, sesuaikan dengan MENU KELUARGA

Setelah bayi melewati fase perkenalan menu tunggal, MPASI akan mengikuti menu keluarga yang disesuaikan bumbu dan teksturnya sesuai usia si bayi. Apa yang diberikan ke bayi  bisa disesuaikan dengan apa yang dimasak untuk anggota keluarga yang sudah dewasa.

KEDUA, sesuaikan dengan EKONOMI keluarga.

Standar ekonomi keluarga berbeda-beda, jangan memaksakan diri dan sesuaikan dengan budget belanja sehari-hari.

KETIGA, sesuaikan dengan KARAKTER dan BUDAYA keluarga.

Ada keluarga yang suka tumis2an tapi ada yg suka sayuran berkuah banyak. Keluarga dari etnis Bugis dengan yg asalnya dari Banjar menu hariannya bisa berbeda. Sotonya orang Betawi dengan Soto Kudus berbeda. Selera keluarga satu dengan keluarga lain juga berbeda.

KEEMPAT,  sesuaikan dengan BAHAN-BAHAN/KEARIFAN LOKAL.

Yang tinggal di pesisir dengan yang tinggal di gunung pasti beda menunya. Yang tinggal di pesisir mungkin punya akses ke ragam ikan dan seafood. Yang tinggal di gunung, sumber proteinnya mungkin lebih sering yg bersumber dr hewan ternak peliharaan.
Yang belanja di warung sayur atau tukang sayur mungkin punya keterbatasan jenis bahan makanan dengan yang bisa belanja di pasar secara rutin.
Variasi menu mereka yang belanja di pasar mungkin bisa beda dengan mereka yang belanja di supermarket yg menjual bahan impor,  bahkan ada juga yang sering memanfaatkan sayuran hasil kebun sendiri.

KELIMA, sesuaikan juga dengan WAKTU memasak yang dimiliki danKEMAMPUAN  memasak.

Apalagi kita punya bayi, biasanya waktu kita di dapur pasti tidak banyak. Kalau skill memasak masih di level belajar biasanya butuh waktu lama untuk memasak. Jadi mulailah dengan resep2 sederhana, perhitungkan waktu memasak yang efisien.

Disadur dari beragam catatan di Grup AIMI dengan beberapa penyesuaian rangkuman.

Sudah jadi anggota grup AIMI? Rajin main ke dokumen yuk ^_^

See….? Menu MPASI gampang kok karena sangat berorientasi keluarga, berciri khas lokal, dan ramah di kantong 😀
Lets supporting Localized MPASI! ^_^

Salam Nenen,
Sakina.