Parenting Guidance: Bebaskan Anak Berkreasi

color

1st Case.
“Di sini Ibu mempunyai banyak pensil warna. Warna apakah ini?
Merah…. Biru…. Hijau…. Kuning…. Coklat…. Ungu… Hitam….
Nah, sekarang Ibu punya selembar kertas yang bergambar binatang. Binatang ini makan rumput dan bersuara Mooooo…. Apa ya? Sapi.
Sekarang waktunya untuk mewarnai sapi, masing-masing dapat satu lembar ya.”

2nd Case.
“Sekarang kita mewarnai yuk… Ini gambar apel.
Lhoh… Salaaah… Kok apelnya diberi warna hijau? Yang warnanya hijau itu daunnya, itu seperti contoh gambar di sebelahnya. Apelnya diberi warna apa itu? Merah. Yuk ambil pensil yang merah. Diwarnai seperti contoh yaaa…. “

Dari kedua ilustrasi di atas, terdapat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu mengenai kebebasan anak untuk memutuskan pilihan warna yang dipakai untuk mewarnai. Terlihat sederhana, namun sebetulnya terdapat perbedaan prinsip yang ditanamkan pada anak.

Tahukah Bunda mengapa gambar pemandangan identik dengan gambar seperti ini?

gunung

Dunia pendidikan formal di Indonesia masih cenderung membatasi kreativitas dan imajinasi anak. Perubahan metode pengajaran dari memberikan contoh warna saat mewarnai perlu diubah, karena anak perlu diberikan kebebasan mewarnai dan memutuskan sendiri warna apa yang akan digunakan. Peran orangtua adalah mendampingi anak tanpa memberikan justifikasi benar dan salah tentang warna. Pemberian contoh untuk diikuti, adalah salah satu bentuk justifikasi tersebut.

Percayalah, pada saatnya nanti anak akan mampu mengambil keputusan sederhana tentang warna secara mandiri berdasarkan hal-hal sederhana yang sudah dia pahami sebelumnya. Ini adalah awal yang baik untuk melatih anak mengambil keputusan tentang hal apapun yang akan dihadapinya nanti.

edufail

Mengapa kreativitas anak harus dibatasi dengan sebuah contoh?

Bukankah membiarkan menemukan ide sendiri, lalu menuangkannya sendiri tanpa perlu justifikasi benar dan salah tentang warna akan lebih mendorong anak untuk lebih kreatif?

Salam Nenen,
Sakina.