Resiko MPASI Dini

Seringkali kita mendapat suara seperti ini di sekitar kita,
“Eeh.. Itu anakmu kasian amat, laper kali tuuh sampe ngemutin tangan sendiri, mainan semua digigitin, mana lagi ileran lagi, kagak dikasih makan tuh anaknya? Tega bener jadi orangtua… Bla bla blaaa…”

Waduh.. Tutup kuping aja dah daripada jadi ikutan ngomel, hihi. Pemikiran seperti di atas perlu kita luruskan bersama.

Menurut konsultan kesehatan mental dan psikologi forensik anak dan dewasa, dr Inneke Limuria, terdapat tahapan fase pada pertumbuhan manusia :
– fase oral yakni usia 0-18 bulan
– fase anal di usia 2-3 tahun,
– fase phallic di usia 4-6 tahun,
– fase latent pada usia 7 hingga masa puber,
– fase genital yakni masa puber di usia 11-18 tahun

Bayi suka mengekplorasi segala sesuatu dengan mulut, karena letak kepuasan memang berada disitu (red baca : mulut. Kebiasaan mengemut jari tangan, kaki, mainan pada bayi bukanlah kebiasaan buruk, alias NORMAL, tentunya Bunda tetap memperhatikan faktor kebersihan dan keamanan baik pada tangan, pakaian anak, sarung tangan/kaki, mainan dsb. Tetap lakukan pengawasan pada anak, dan waspadai kebiasaan tsb apabila berlangsung di atas usia normal.

Nah.. Emut-emutan bukan jadi alasan dong ya untuk MPASI Dini. Dikutip dari artikel TUM yang ditulis oleh Konselor Laktasi,Fatimah

Berliana, MPASI Dini mempunyai risiko yang tinggi:
1. Bayi rentan sakit, belum lagi bila MPASI tidak higienis
2. Gangguan pencernaan ; sembelit, diare
3. Alergi makanan
4. Obesitas
5. Produksi ASI Bunda menurun
6. Bayi tidak mendapat nutrisi optimal dari ASI
7. Invaginasi Usus (segmen usus masuk ke bagian usus lain sehingga berefek serius bahkan kematian)

Ck..ck..ck..
Mau menggantungkan risiko tersebut kepada anak?
Jangan dong ya. Ngeri euy!
Lanjutkan terus ASI ekslusif selama 6 bulan
Selamat berjuang Ayah dan Bunda
Terus edukASI dan sebarkan informASI kepada sekitar yaa..

Salam Nenen,
Sakina.